Liga Inggris | Detail

Solskjaer Korban Bobroknya Manajemen dan Pemilik Man United

Wikanto Arungbudoyo
Senin, 22 November 2021, 11:21 WIB
Solskjaer Korban Bobroknya Manajemen dan Pemilik Man United
Ole Gunnar Solskjaer menyapa penggemar Man United untuk terakhir kalinya (Foto: Reuters/David Klein)

TIDAK ada lagi Ole Gunnar Solskjaer di kursi pelatih Manchester United. Namun, kepergian Solskjaer tak lantas memperbaiki masalah yang mendera Setan Merah. Akar masalahnya bisa dirunut hingga ke hirarki tertinggi, yaitu pemilik klub Keluarga Glazer

Prestasi Man United terjun bebas sepeninggal Sir Alex Ferguson pada Mei 2013. Pelatih legendaris asal Skotlandia itu mengundurkan diri dengan alasan pribadi. Sayangnya, kepergian Fergie diikuti oleh salah satu tokoh sentral di klub, yakni David Gill.

Peran Gill selaku Chief Executive Officer (CEO) Man United tak bisa dipandang sebelah mata. Dia adalah sosok yang menjembatani perbedaan antara Keluarga Glazer dengan Ferguson sejak 2005 hingga 2013. Sosoknya begitu krusial dalam hal pengambilan keputusan di jajaran manajemen. 

Duo Ferguson dan Gill-lah yang mampu menstabilkan Man United, yang ketika itu dominasinya mulai digoyang Chelsea dan Manchester City sebagai emerging forces di Liga Inggris. 

Sir Alex Ferguson dan David Gill pergi secara bersamaan pada 2013 (Foto: BBC)
Sir Alex Ferguson dan David Gill pergi secara bersamaan pada 2013 (Foto: BBC)

Sayangnya, Gill kemudian ikut pergi ketika Ferguson pensiun. Dari sinilah, borok Man United mulai terlihat. Keluarga Glazer menunjuk Ed Woodward selaku CEO, dan kemudian menjadi Wakil Presiden. Ini adalah kesalahan terbesar yang dilakukan rezim Glazer. 

Woodward sama sekali buta dengan dunia sepak bola. Latar belakangnya sebagai akuntan hanya berguna untuk menambah tebal kocek klub. Buktinya saja, deretan perusahaan mengantre sebagai sponsor klub

Namun, kinerja Woodward, sebagai kepanjangan tangan Keluarga Glazer, sangat buruk pada aspek terpenting sebuah klub: prestasi di lapangan hijau. Perekrutan pemain hingga pelatih yang dilakukan selama masa kepemimpinannya, layak diberi rapor merah. 

Tak percaya? Simak saja sepak terjang pertama Woodward di bursa transfer. Dia memilih menggaet Marouane Fellaini pada tenggat bursa transfer musim panas 2013 dengan harga 27 juta poundsterling (setara Rp516 miliar). 

Padahal, Fellaini berbanderol jauh lebih murah sebulan sebelumnya. Mustahil Woodward tidak tahu hal tersebut. Apalagi, David Moyes –pelatih Man United ketika itu- sudah meminta manajemen untuk mendatangkan Fellaini dari Everton sejak ditunjuk menggantikan Ferguson!

Dari situlah, blunder-blunder manajemen Man United terlihat sungguh mengenaskan. Contoh lainnya ada pada pemilihan pelatih. Lazimnya, sebuah klub punya proyek yang jelas ketika menggaet juru taktik. Entah itu berkaitan dengan prestasi, atau hendak menanamkan filosofi. 

 

RECENT COMMENTS

/ rendering in 0.2157 seconds [12]