logo
Ragam Lainnya | Detail

Sejarah Lahirnya Pekan Olahraga Nasional, Dilandasi Semangat Kebangsaan

Rifqi Herjoko
Sabtu, 02 Oktober 2021, 14:15 WIB
Sejarah Lahirnya Pekan Olahraga Nasional, Dilandasi Semangat Kebangsaan
Upacara Pembukaan PON I di Solo, Jawa Tengah, pada 9 September 1948 (Foto: Twitter/@ArsipNasionalRI)

SEJARAH lahirnya Pekan Olahraga Nasional (PON) tak terlepas semangat kebangsaan. Kini, ajang olahraga terbesar di Indonesia itu telah memasuki edisi ke-20 dengan nama PON XX Papua 2021

Sebanyak 37 cabang olahraga akan dipertandingkan pada ajang kali ini. Para atlet yang merupakan perwakilan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, akan saling bersaing untuk mengusung gengsi daerah masing-asming. 

PON sendiri memang tak lepas dari latar belakang belakang politik sejak pertama kali dibentuk pada 1948 di Surakarta (Solo). Ajang tersebut dibentuk sebagai turnamen tandingan dari Olimpiade.

Sebagai informasi, Indonesia saat itu bertekad untuk ikut ambil bagian dalam Olimpiade London 1948. Adapun tujuan utama dari keikutsertaan tersebut adalah untuk mendapatkan pengakuan internasional sebagai negara yang baru berdiri.

Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubowono XI, hadir pada Upacara Pembukaan PON I di Solo (Foto: Twitter/@ArsipNasionalRI)
Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubowono XI, hadir pada Upacara Pembukaan PON I di Solo (Foto: Twitter/@ArsipNasionalRI)

Namun, pengajuan keikutsertaan itu ditolak dengan sejumlah alasan. Pertama, Indonesia belum menjadi anggota PBB. Hanya sedikit negara yang mengakui kedaulatan Tanah Air pada saat itu. Alasan kedua, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) belum menjadi anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Alasan ketiga, Inggris tidak mengakui paspor Indonesia. Itu berarti, atlet yang berangkat ke Olimpiade London 1948 harus memakai paspor Belanda. Di sisi lain, kebijakan tersebut justru semakin mengukuhkan kedaulatan Belanda di Indonesia. 

Pada akhirnya, diskusi antar petinggi Republik ini menghasilkan suatu keputusan. Jika Indonesia tidak bisa ikut Olimpiade, maka suatu ajang olahraga berskala nasional akan diadakan. Surakarta pun dipilih menjadi tuan rumah pertama ajang tersebut. Alasannya, fasilitas olahraga di wilayah tersebut sudah cukup baik pada zaman itu dengan adanya fasilitas Stadion Sriwedari serta kolam renang.

 

RECENT COMMENTS
/ rendering in 0.1873 seconds [13]