Balap Lainnya | Detail

Rumor Vs Fakta Penyelenggaraan Formula E di Jakarta

Tim Sportstars
Rabu, 29 September 2021, 14:50 WIB
Rumor Vs Fakta Penyelenggaraan Formula E di Jakarta
Pembalap Jaguar Racing, Mitch Evans (Foto: Twitter)

JAKARTA - Ajang formula E menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia belakangan ini. Kesimpangsiuran informasi menjadi penyebab ajang balapan ini banyak menjadi pembicaraan di media sosial.

Mulai dari pemborosan APBN, komitmen fee yang terlalu tinggi dan hingga potensi kerugian besar yang ditanggung oleh negara. Berdasarkan data statisik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, setidaknya ada 10 poin yang perlu diketahui dari penyelenggaraan Formula E.

1. Formula E pemborosan APBD?

Sekadar informasi, hampir semua event olahraga dunia termasuk Asian Games, Olimpiade, Formula 1, MotoGP, dan Formula E, membutuhkan dana pemerintah. Lebih lanjut, ajang olahraga dunia tersebut dapat memberi banyak efek untuk stimulus ekonomi jangka panjang.

2. Formula E hanya untung jika diadakan lima tahun berturut-turut. Bahkan hanya dua kota yang melaksanakan secara berturut-turut dan mereka merugi.

Sebaliknya apabila Formula E diadakan sekali, otomatis akan menderita kerugian karena biaya infrastruktur balapan hanya terpakai beberapa kali. Namun kondisi pandemi menghasilkan kesepakatan bahwa pelaksanaan akan dilakukan secara tiga tahun, yaitu 2022, 2023, dan 2024. Lebih lanjut durasi tiga tahun merupakan waktu yang tepat untuk memaksimalkan manfaat dan dampak ekonomi.

3. Komitmen Fee Rp2,3 triliun dan biaya pelaksanaan Rp4,4 triliun?

Ajang Formula E di Jakarta menuai sejumlah polemik di masyarakat (Foto: Twitter)
Ajang Formula E di Jakarta menuai sejumlah polemik di masyarakat (Foto: Twitter)

Perlu digarisbawahi jika komitmen fee adalah Rp560 miliar (bukan untuk tahun pertama, namun untuk semua tahun penyelenggaraan). Kegiatan Formula E juga telah ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPRD dan menjadi Perda No.7 tahun 2019. Selain itu, tidak ada lagi biaya dari APBD untuk Formula E di tahun 2022, 2023, dan 2024.

Biaya Rp150 Miliar, tidak dibebankan oleh APBN namun bersumber dari sponsorship yang dilakukan oleh Jakpro. Dalam perjanjian kerjasama terbaru, tidak ada pula keperluan untuk dibuatkan bank garansi.

Hasilnya, pembiayaan Formula E sudah berasal dari APBD 2019 yang sudah dibayarkan dua tahun lalu. Pembayaran tersebut dilakukan sebelum pandemi Covid-19 tahun 2020. Tidak ada lagi biaya dari APBD yang digunakan untuk komitmen fee maupun biaya penyelenggaraan ke depan.

4. Komitmen Fee Formula E di Jakarta lebih tinggi dibandingkan kota lain

Nilai komitmen fee masing-masing negara akan berbeda-beda. Itu disebabkan oleh tiga faktor yaitu FEO meng-cover biaya penyiaran live di 150 negara, akomodasi ribuan ofisial selama satu bulan, biaya keamanan, logistik, hingga asuransi.

Kedua perbedaan fee juga dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia lebih jauh. Sehingga membuat biaya logistik jauh lebih besar dari kota-kota di Eropa dan Amerika.

Ketiga, apabila pelaksanaan balapan dilakukan semakin akhir, maka semakin besar pula biaya yang dikeluarkan. 

5. Biaya Rp560 miliar dapat dialokasikan untuk Covid-19

Penyelenggaraan Formula E tidak mengesampingkan anggaran di sektor lain yang lebih vital. Pasalnya pembayaran sudah dilunasi pada tahun 2019 sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

 

RECENT COMMENTS

/ rendering in 0.1357 seconds [12]