logo
Liga Indonesia | Detail

Nasib Miris Korban Tragedi Kanjuruhan: Kehilangan Pekerjaan, Ibu Terpaksa Berhenti Jualan

Avirista Midaada
Sabtu, 12 November 2022, 13:02 WIB
Nasib Miris Korban Tragedi Kanjuruhan: Kehilangan Pekerjaan, Ibu Terpaksa Berhenti Jualan
Dian Puspita Putri Adriyanti mengalami nasib miris usai menjadi korban tragedi Kanjuruhan (Foto: MPI/Avirista Midaada)

MALANG - Nasib miris menimpa korban tragedi Kanjuruhan yang bernama Dian Puspita Putri Adriyanti. Gadis berusia 21 tahun itu kehilangan pekerjaannya setelah mengalami patah kaki dalam tragedi Kanjuruhan yang terjadi Sabtu 1 Oktober 2022 malam WIB.

Dian harus kehilangan pekerjaannya di salah satu pabrik di kawasan Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Perusahaan memilih memutus kontrak setelah kaki kanannya patah akibat insiden mematikan tersebut.

Sebulan lebih sudah tragedi Kanjuruhan berlalu, Dian hanya bisa terkulai lemas di kursi roda. Dia tak bisa lagi bekerja seperti biasanya. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan Dian dan ibunya Etik Karyati Ngesti pun berubah 180 derajat.

Memang, perusahaan tempat Dian bekerja sempat menjanjikan sang gadis bisa kembali bekerja setelah sembuh. Namun, hal itu tak lantas membuat Etik lega. Sementara itu, dia sendiri harus berhenti berjualan bubur karena ingin fokus merawat putri tercintanya.

"Sekarang enggak kerja," kata Etik, ketika ditemui di rumahnya di Jalan Plaosan Timur Gang 7, Sabtu (12/11/2022).

Dian Puspita Putri Adriyanti ditemani sang ibu Etik Karyati Ngesti di rumahnya (Foto: MPI/Avirista Midaada)
Dian Puspita Putri Adriyanti ditemani sang ibu Etik Karyati Ngesti di rumahnya (Foto: MPI/Avirista Midaada)

"Ya sudah enggak jualan lagi, selama anak sakit ini. Kalau suami kerja serabutan di luar kota. Makanya saya wira-wiri sendiri ya ke sana ke sini sendiri, yang penting anak saya sembuh," imbuhnya.

Kini, Etik mengandalkan kiriman uang dari suaminya yang bekerja di luar kota, serta bantuan yang berdatangan. Apalagi, Dian sebenarnya juga merupakan tulang punggung keluarga, lantaran kedua adiknya juga masih duduk di bangku sekolah.

"Kalau bantuan sudah ada, kemarin pengobatan juga gratis, tapi sekarang enggak kerja sebenarnya dia tulang punggung keluarga juga, adik-adiknya masih sekolah ini mau jualan juga nggak bisa, untuk keseharian masih bingung," terang Etik.

Sebetulnya, Dian masih menjalani rawat jalan dan kontrol di RSSA Malang. Namun, dia merasa kurang puas dengan pelayanan di rumah sakit milik Pemprov Jawa Timur itu. 

Apalagi, ingatan anaknya belum pulih, tetapi dokter tidak mendiagnosa adanya cedera di kepala. Hal inilah yang membuat Etik ingin membawa Dian berobat ke rumah sakit swasta.

 

RECENT COMMENTS
/ rendering in 0.1742 seconds [13]