Bola Lainnya | Detail

ANALISIS : Tagar Haruna Out dan Sepak Bola Gimmick

Maruf
Kamis, 20 Januari 2022, 15:12 WIB
ANALISIS : Tagar Haruna Out dan Sepak Bola Gimmick
Shin Tae-yong mengabadikan momen dukungan suporter Timnas Indonesia dari jendela Hotel Sultan (Foto: Instagram/@shintaeyong7777)

SEBAGIAN dari kita pasti sering mendengar istilah gimmick yang dalam serapan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjadi gimik. KBBI menerjemahkan kata gimik dengan “gerak-gerik tipu daya aktor untuk mengelabui lawan peran”.

Definisi yang muncul karena awalnya memang istilah gimmick digunakan di panggung teater seni peran. Meski, sampai tulisan ini dibuat (20/1/2022), belum diketahui secara pasti dari mana kata gimmick muncul. Baru satu pendapat dari ahli etimologi yang mengatakan: Gimmick muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.

Kamus Oxford menunjukkan bahwa kata gimmick diduga awalnya merupakan istilah slang untuk sesuatu yang dimanipulasi oleh penipu atau pesulap untuk membuat penampilan berbeda dari kenyataan dan secara bertahap mengubah artinya merujuk pada 'peralatan pesulap' mana pun.

Ada juga yang menduga kata itu mungkin merupakan anagram (sebuah permainan kata) perkiraan dari kata sihir. Sedangkan Cambridge Dictionary menterjemahkan gimmick dengan; sesuatu yang tidak nyata dan bertujuan untuk cari perhatian atau minat seseorang untuk sementara.

Ini kenapa, kata gimmick bisa digunakan dalam banyak bidang. Mulai dari marketing hingga politik. Dalam marketing, gimmick digunakan untuk mendramatisasi keunggulan produk yang dipasarkan. Tujuannya, membuat konsumen tertarik membeli produk yang dipasarkan.

Di ranah politik, tak jarang ditemui gimmick yang dilakukan politikus. Bagaimana melakukan aksi di tengah kondisi yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Berpura pura menjadi pembela masyarakat banyak, saat bersamaan di belakang memiliki kalklulasi untung rugi.

--

Sepak bola Indonesia tidak jauh dari gimmick. Banyak drama, banyak cerita berseliweran tanpa pernah bener-benar menghasilkan prestasi membanggakan. Gerakan besar itu sudah dimulai pada 2011 ketika suporter melakukan demo di depan kantor PSSI. Mereka meminta revolusi di PSSI dan meminta Nurdin Halid turun dari posisi ketua umum PSSI.

Lewat Kongres Luar Biasa (KLB) di Solo, Djohar Arifin Husin terpilih sebagai ketua umum PSSI 2011-2015. Sekaligus menjadi akhir delapan tahun era Nurdin Halid di sepak bola nasional. Turunnya, Nurdin Halid tidak langsung membuat sepak bola kita membaik.

 

RECENT COMMENTS
/ rendering in 0.1317 seconds [13]