Bola Lainnya | Detail

ANALISIS - Sepak Bola Memang Sekejam Itu

Maruf
Jum'at, 31 Desember 2021, 16:02 WIB
ANALISIS - Sepak Bola Memang Sekejam Itu
Paulo Maldini melintas di depan trofi Liga Champions 2005.

26 MEI 1999, Camp Nou, pemain dan ofisial Bayern Munchen sudah bersiap melakukan selebrasi ketika asisten wasit mengangkat papan tambahan waktu; Di situ tertulis 3 menit. Bermain di final Liga Champions melawan Manchester United (Man United), Munchen unggul satu gol melalui gol Mario Basler sejak menit ke-6. Munchen juga dominan sehingga mereka layak untuk mempersiapkan pesta juara di benak dan hati mereka. 

Tapi, sepak bola memilih sejarahnya sendiri. Kurang dari satu menit sejak asisten wasit mengangkat papan tambahan waktu, Man United membuat gol penyama kedudukan (1-1) melalui Teddy Sheringham memanfaatkan tendangan sudut David Beckham. Gol Sheringham tersebut serasa meruntuhkan psikologis tim asuhan Ottmar Hitzfeld. Karena, tidak lama setelah kick-off, Man United mengubah peruntungan melalui gol Ole Gunnar Solskjaer lagi lagi memanfaatkan kemelut hasil tendangan sudut Beckham. 

Persiapan selebrasi juara Liga Champions Munchen hilang hanya dalam waktu kurang dari tiga menit menjelang pesta digelar. "Saya tidak bisa mempercayainya. Saya tidak bisa mempercayainya. Football...Bloody Hell," kata Ferguson.  Bagi pendukung Man United itu adalah malam penuh keajaiban, tapi, bagi pendukung Munchen, malam di Camp Nou adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah mereka lupakan. Sepak bola memang sekejam itu. 

--

25 Mei 2005, atau enam tahun setelah tragedi Camp Nou, AC Milan bisa jadi langsung terdiam jika disbeut nama Ataturk Olympic Stadium, Istanbul. Saat banyak fans sepak bola terutama pendukung Liverpool, menyebut sebagai keaijaiban Istanbul, Turki, bagi Milan, malam itu adalah malam jahanam yang melahirkan trauma panjang. 

Pelatih Rossoneri saat itu Carlo Ancelotti mengungkapkan bagaimana dia butuh waktu 10 tahun sebelum akhirnya berani melihat kembali rekaman pertandingan final antara Milan vs Liverpool. "Saya menyaksikan (final Istanbul) setelah 10 tahun. Kami juga bermain dengan sangat baik di perpanjangan waktu. (Jamie) Carragher berkata kalau mereka sudah tidak bisa bertahan lagi dan ingin segera ke babak penalti," tulis Ancelotti di akun media sosialnya.

 

RECENT COMMENTS

/ rendering in 0.1185 seconds [12]